Senin, 11 April 2011

Tentang Jakarta



Kata orang desa, Jakarta itu kota harapan dan impian. Semua bisa diraih asal bisa menaklukkan Necropolis, Ibukota, dimana semua raga berkeliaran tanpa jiwa. Tidak moksa, tidak sirna.

Lihat itu, bangunan serupa falus menjulang setinggi 128.7 meter, lengkap dengan skrotum penyangga di bawahnya. Perlambang kemakmuran kah seperti representasi lingga-yoni pada pura Hindu? Atau gagah-gagahan orangutan pejantan memamerkan genital demi betina terbaik dan pengakuan kelompok?

Saya tidak mengerti bagaimana wilayah seluas 661 kilometer persegi mampu menampung delapan juta empat ratus sembilan puluh ribu manusia dengan jarak begitu jauh. Dalam satu kelurahan ada penduduknya yang mampu membeli lima mobil mewah dalam sehari sementara tetangganya bahkan tak punya atap, apalagi nasi.

Dan bantu saya untuk memahami sepasang kakak-beradik mungil dan lusuh memanggul karung besar berisi gelas plastik bekas lepas tengah malam, menyeruak diantara kakak-kakak remaja wangi-trendi duduk-duduk menunggu datangnya roti. Atau cempreng suara banci berdandan ala Krisdayanti menggotong audio sistem murahan, meliuk berharap birahi datang namun dapat tatapan sebal dari tangan yang mengangsur seribuan kumal.

Saya tak habis pikir betapa jembar jalan-jalan Jakarta dan seberapa banyak kendaraan berjejal diam bergeming. Gedung-gedung dibangun tinggi mencakar langit tapi lupa tanah yang dipijak. Perempatan adalah danau dadakan setiap hujan besar datang. Dan kendaraan lebih banyak berjejal diam bergeming--namun suara tak berhenti berebut kuping.

Orang-orang (yang katanya) terbaik, (yang katanya) mewakili kepentingan seluruh anak negeri, terkantuk-kantuk di atas kursi empuk, menggugat gaji naik untuk kinerja yang turun, lalu curhat dan ngambek di media. Jumawa menjambret hak dan waktu sesama pengguna jalan agar lekas sampai tujuan. Ada hukum di sana? Hah! Kamu bercanda, ya?!

Duhai, Jakarta yang angkuh dengan penghuni menyimpan amarah membadai mengguruh...
Mengapa tak sedikit pun kau malu?